Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2020

Bantuan Negara, Hutang Presiden

Gambar
  Dalam berita tentang peningkatan ekonomi dan masalah covid banpres sudah mencapai angka 13 triliun. Kalimat dalam head line media ini membuat pertanyaan dalam otak saya. Pertanyaan sederhana muncul, kenapa kalau bantuan di sebut BANTUAN PRESIDEN sementara kalau hutang di katakan HUTANG NEGARA? Kenapa ngak di balik? Bantuan negara pada saat memberikan stimulus dan hutang presiden pada saat pemerintah memilih meminjam pada lembaga donor. Sehingga ketika sudah tidak jabat, dia masih harus tanggung jawab HUTANG YANG DI BUATNYA. Ngomong seperti ini perlu nyali memang. Kalau saya karena bodoh,tapi dengan rasa ingin tau tinggi dan ada cinta NKRI, berani mengatakan HUTANG PRESIDEN dan bantuan negara yang akan diberikan. Kalau ada Hutang Presiden yang diambil saat ia memimpin maka selesai masa tugas jabatan ia harus lunasi. Pasti Keren ! Tetapi beban hutang pejabat sebelumnya terus di akumulasi sampai saat ini yang 5000an triliunan, ya bagaimana ini, siapa yang mau bayarin?

Kemiskinan itu gak punya uang

Gambar
   Printscreen yang di postingan ini, adalah sesi TEDtalk Rutger Bregman. Topiknya sangar : "Poverty isn't a lack of knowledge, it's a lack of cash" Saya sarankan nonton tayangan nya. Di aplikasi TED/ Youtube ada sub indonya. Paksain nonton setelah membaca postingan ini. Baik, kita lanjut. Inti penyampaian Rutger ini, masyarakat miskin itu selalu bolak balik ambil keputusan hidup yang salah karena memang memory RAM berfikirnya habis sama tekanan hidup yang dijalani. Ketika orang mau makan susah, mau berteduh gak bisa, besok bingung harus gimana, maka relatif manusia kehilangan ketenangan, stress dan reaktif. Buktinya, di area pemukiman padat, para rentenir bunga 20% per bulan kebanjiran nasabah. Masyarakat miskin akhirnya ngutang untuk dapat 500rb sd 1 juta buat makan dan lanjutin tempat tinggal, bayar sewa kontrakan. Ya itu terjadi karena gak bisa mikir lagi mereka. Hantam saja apa yang ada didepan mata. Pokoknya dapat cash. Bisa makan. Maka teori dari Rutger, masyar...

Kebanyakan Impor, Hulu Terbengkalai

Gambar
  Bagi sebagian orang mungkin membaca headline ini dalam pembacaan yang sederhana : Indonesia kekurangan sayur, lalu impor. Apa salahnya. Atau mungkin ada yang sudah berfikir globalist sekali. Dunia memang saling jual beli. Indonesia ekspor sesuatu, lalu impor sesuatu. Saling memnuhi kebutuhan yang ada. Biasa saja. Atau mungkin membaca dengan penuh sangka baik. Sayur apa dulu. Mungkin sayuran yang gak bisa tumbuh di negeri tropis. Jangan kemakan headline. Bisa jadi begitu. Maka boleh saja membaca nya dengan penuh kesan positif. ***** Itu sayur. Bagaimana jika yang terjadi adalah beras impor? Dan sudah kejadian kan. Apakah lahan di negeri ini kurang? Sehingga gak bisa nanam. Apakah di negeri tropis ini tidak bisa tumbuh padi? Apakah teknologi pertanian kita gak bisa se efisien Thailand, sehingga harga beras bisa murah? Pertanyaan demi pertanyaan yang jawabannya jelas. Bisa. Namun tidak juga kejadian di negeri ini. Kita swasembada pangan. ***** Membaca headline ini, sebenarnya kita b...