Perempuan bekerja, baik atau tidak?
Dari video KHB, seorang ustad yang pernah suatu waktu saya ikuti pengajian nya di masjid nurut iman (ada di lt.6 blok m square).
Saya rasa benar secara rasional dari yang di dibahas divideo tersebut. Saya mengalami hal serupa, dalam konteks berpacaran, belum menikah ! Saat saya disukai dan di ajak menikah yang diutarakan secara langsung oleh seorang wanita yang kedudukan sosial/ Value dirinya dibawah saya artinya saya lebih berkualitas status dan hidup nya (pada masa itu). Awal mula saya dekat hanya sebagai teman saja yang berempati sebagai teman ketika di minta tolong bantuannya oleh dia dan ingin belajar juga karena pandangan pertama saya dia seperti seorang muslimah yang berwawasan agama yang luas (semakin dalam saya mengenal nya ternyata pandangan ini tidak tepat). Saat dia mengutarakan isi hati dan pikiran nya untuk mengajak saya menikah dengan nya jawab saya 1 pekan kemudian dengan jawaban ketidaksiapan karna saya rasa diri saya belum siap secara mental, pengetahuan, finansial, dsb. Jadi sederhana nya saya ajak dia menjadi seorang sahabat/ pacar mungkin.
Dia seorang wanita yang tumbuh dan besar dari keluarga (maaf menurut saya kelompok marginal) minimal pola pikir/ mindset nya lebih jelasnya dari keputusan yang diambil, situasi keadaan keuangan keluarga nya, tumbuh kembangnya yang dia ceritakan pernah di eksploitasi menjadi pengemis saat masa kecilnya dan mental meminta-minta/ ketidak mandiri dari didikan di lingkungan keluarga nya membuktikan hal tersebut dari bukti lainnya utang teman (dulu pacar) saya ini terus meningkatkan, padahal pendapatan keuangan (income) nya naik sedikit demi selidik ternyata ini akibat gaya hidupnya yg konsumtif, literasi keuangan yang buruk minimal belum bisa membedakan mana kebutuhan dan keinginan deh. Saya selalu nasihati dan berikan penjelasan nampaknya kayak angin berlalu saja
Kembali pada keputusan saya menerima nya entah ini hawa nafsu/ murni keikhlasan saya, saya terima dia untuk berada dalam kehidupan saya, tetapi belum saya menjadi istri, kenapa? karena motif kasihan, empati, ingin membantu dan membersamai untuk berproses, berjuang bersama. Hari, pekan, bulan, tak terasa 4 tahun berlalu saya sudah menjalani hubungan ini. Alhamdulillah wanita ini telah banyak pencapaian hidupnya yang dahulu belum pernah ia rasakan, seperti hal sederhana bepergian ketempat baru/traveling, makan minum enak, sampai ke pencapaian yang lebih besar seperti berhasil menuntaskan pendidikan Magister (S2) nya, penghasilan nya yang meningkat sampai 3x lipat dari awal sebelum kami bersama.
Dari sini mulai saya catat, bahwa dahulu saat saya terima ia dalam keadaan lontang-lantung tanpa pekerja, tanpa penghasilan, saya berikan uang dan bantuan lainnya untuk dia bisa survive, saya selalu mau berkorban untuk dia. Tetapi saat dia merasa hidupnya lebih keren dari sebelumnya meningkatlah gaya hidupnya, bertambah banyak keinginannya, ego dan gengsi meningkat seakan menjadi orang yang narsis, ingin dipuji orang lain. Beragam nasihat, arahan dan bimbingan saya tak lagi di hiraukan, tidak ada artinya lagi posisi saya sebagai pria di sampingnya. Mungkin di pikiran nya tidak lah bermanfaat dan berguna lagi pria ini, kenapa? Karena pria ini tidak mau memberikan validasi dan menuruti nafsu yang ia inginkan. Apa yang ia mau harus di wujudkan, tanpa menimbang kapasitas, manfaat dan resikonya kedepan. Apapun yang dia mau harus dituruti seperti anak kecil yang ngambek ke orang tuanya. Sederhana nya seperti itu.
Saya berusaha menjaga tujuan awal yang ia minta untuk menikah, saya jaga tujuan dan komitmen itu. Tetapi nyatanya tidak dengan dia yang selalu banyak mau nya, apa yang ia lihat seakan ia mau semuanya, hidupnya seperti tanpa prinsip, mengalir mengikuti nafsu dan situasi lingkungan tanpa melihat kapasitas nya. Tak sadarkah ia ? Utang nya terus bertambah banyak, seiring juga sebenarnya income nya bertambah. Rasional nya seharusnya ia memiliki uang lebih karena pendapatan nya bertambah, nyatanya tidak ! Karena nafsu keinginan yang tidak terkontrol begitulah wanita mengambil keputusan (mungkin tidak semua wanita) cenderung emosional/ perasaan sesaat yang dipakai untuk mengambil keputusan tanpa berpikir secara rasional untuk masa depannya.
Mungkin ada benarnya wanita tidak berkewajiban untuk mencari nafkah jika sudah berumah tangga karena cenderung lebih banyak tidak baiknya seperti contoh tulisan di atas. Terkecuali wanita tertentu dengan syarat dan kondisi tertentu mungkin okelah sepasang suami istri bisa saling bekerja itupun tentu dengan aturan komitmen yang jelas. Jadi sekarang saya belum menikah lebih baik hal sederhana diawali ini saya belajar tentang fiqih pernikahan dulu ya, dari pada saya buang energi pacaran-pacaran

Komentar
Posting Komentar